Makalah
ASKEB V
Pengembangan
Wahana atau Forum PSM
(KB-KIA
dan Dasa Wisma)
Disusun
oleh:
Nita
Yuningsih
Puji
Astuti
Putri
Rizki Reinanda
Reni
Debrianita
Restu
Puji Noviatri
Rita
Sari Ningsih
Kelas
: IV B
STIKes WIDYA DHARMA HUSADA
Jurusan DIII Kebidanan
Jl. Surya Kencana No.1
Pamulang-TangSel
2012/201
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan kasih dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ASKEB V yang berjudul “Pengembangan
Wahana atau Forum PSM (KB-KIA dan Dasa Wisma) dengan baik dan semaksimal
mungkin.
Kami
menyadari bahwa dalam menyusun tugas makalah ini kami banyak menumukan berbagi
hambatan ataupun kesulitan. Namun atas bantuan dari banyak pihak maka kami pun
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah membantu
penyelesaian dari makalah ini
Tak lupa
kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan
dalam penulisan makalah ini. kami sadar bahwa manusia tidak ada yang sempurna
oleh karena itu kami mengharapkan kebesaran hati dari para pembaca dengan
memberikan kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
Pamulang, Mei 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar ........ !
Daftar
Isi ........ !
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ........ 1
1.2
Tujuan .................................................................................... ........ 3
BAB
II. PEMBAHASAN
2.1
KB(Keluarga Berencana) –
KIA(Kesehatan Ibu dan Anak) ............ 4
2.1.1 Definisi KB-KIA
.......................................................... 4
2.1.2 Tujuan KB-KIA
............................................................ 5
2.1.3 Kebijakan
...................................................................... 6
2.1.4 Materi Kegiatan ............................................................ 7
2.1.5 Kegiatan yang dilakukan
.............................................. 7
2.1.6 Pelaksana
...................................................................... 7
2.1.7 Faktor Penentu Keberhasilan
........................................ 8
2.1.8 Tugas Bidan Sebagai Pengelola Pelayanan
KB-KIA .. 8
2.1.9 Tugas Kader dalam KB-KIA
....................................... 8
2.1.10 Program pokok KB-KIA
.............................................. 8
2.1.11 Pelayanan Poli KB-KIA
............................................... 9
2.1.12 Macam-Macam Metode Kontrasepsi
............................ 10
2.2
Dasa Wisma
...................................................................................... 16
2.2.1 Definisi
Dasa Wisma .................................................... 16
2.2.2 Peran
Dasa Wisma ........................................................ 18
2.2.3 10
Program Pokok PKK ............................................... 20
BAB
III. KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
Kesimpulan ........ 27
3.2
Saran ........................................................................................ ........ 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Keluarga berencana (KB) adalah program nasional yang
bertujuan meningkatkanderajat kesehatan, kesejahteraan ibu, anak dan keluarga
khususnya, serta bangsa pada umumnya. Salah satunya dengan cara membatasi
dan menjarangkan kehamilan.
Masalah yang akan dihadapi oleh keluarga yang
memiliki anak dalam jumlah banyak terutama disertai tidak diaturnya jarak
kelahiran adalah peningkatan risiko terjadinyapendarahan ibu hamil pada
trimester ketiga, angka kematian bayi meningkat, ibu tidak memiliki waktu
yang cukup untuk merawat diri dan anaknya, serta terganggunya proses
perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan kurang gizi, berat badan
lahir rendah(BBLR) dan lahir prematur.
Proyeksi penduduk telah dirumuskan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) denganperkiraan penduduk Indonesia sekitar 273,65 juta jiwa
pada tahun 2025. Laju pertumbuhanpenduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah
2,30%, tahun 1980-1990 adalah 1,97%, tahun1990-2000 sebanyak 1,49% dan tahun
2000-2005 adalah 1,3%. Hal ini menujukkan adanya penurunan laju pertumbuhan
penduduk Indonesia.
Hingga saat ini sudah banyak program-program
pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah
kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik
beratkan pada upayaupaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka
kelahiran kasar dan angka kematian ibu.
Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang
menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar.
Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua
dekade ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. SKRT 1994
menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan.
Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan
anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit
tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan
anak acap kali berakhir dengan kematian.
Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita
oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis dan lain-lain dapat
membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan. Baik
masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya, tidak
terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat
dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan
pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan,
hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan
dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun
negatif terhadap kesehatan ibu dan anak.
Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah
merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar.
Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan
tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan
kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan
tertentu.
Dasa wisma adalah kelompok ibu berasal dari 10 rumah
yang bertetangga. Kegiatannya diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga.
Bentuk kegiatannya seperti arisan, pembuatan jamban, sumur, kembangkan dana
sehat (PMT, pengobatan ringan, membangun sarana sampah dan kotoran).
Kerangka pikir pertama adalah bahwa Desa Siaga akan
dapat terwujud apabila manajemen dalam pelaksanaan pengembangannya
diselenggarakan secara paripurna oleh berbagai pihak (unit-unit kesehatan dan
pemangku kepentingan lain yang terkait).
Hasil pemantauan oleh masyarakat diinformasikan
kepada petugas kesehatan atau unit yang bertanggung jawab untuk dapatnya
diambil tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien. Kegiatan yang
dilakukan oleh masyarakat merupakan kegiatan dalam rangka kewaspadaan dini
terhadap ancaman muncul atau berkembangnya penyakit/masalah kesehatan yang
disebabkan antara lain oleh status gizi, kondisi lingkungan dan perilaku
masyarakat (surveilans).
Secara umum tujuan dari kegiatan tersebut yang
berbasis masyarakat adalah terciptanya sistem kewaspadaan dan kesiapsiagaan
dini di masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan masalah-masalah
kesehatan yang akan mengancam dan merugikan masyarakat yang bersangkutan.
1.2
Tujuan
1.2.1
Tujuan
Umum
Meningkatkan jangkauan
dan mutu pelayanan KB-KIA dan Dasa Wisma.
1.2.2
Tujuan
Khusus
a) Memantau
cakupan pelayanan KB-KIA dan Dasa Wisma.
b) Mengetahui
peran Dasa Wisma.
c) Menilai
kesenjangan antara target dengan pencapaian.
d) Menentukan
urutan daerah prioritas yang akan ditangani secara intensif.
e) Merencanakan
tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
f) Membangkitkan
peran pamong dalam menggerakkan sasaran dan mobilisasi sumber daya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 KB (Keluarga Berencana) -KIA (Kesehatan
Ibu dan Anak)
2.1.1 Definisi KB-KIA
Keluarga
berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan.
Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif
untuk mencegah ataupun menunda kehamilan.
KIA
adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak yang anggotanya
meliputi ibu hamil dan menyusui.
Cara-cara
tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan
keluarga. Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak
direncanakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang
tidak direncanakan ini terjadi karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat
pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi
tidak benar cara penggunaannya.
Metode
kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan
membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi
untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi dapat
reversible (kembali) atau permanen (tetap).
Kontrasepsi
yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat
tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya
anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah
metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan
melibatkan tindakan operasi.
Metode
kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode
barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode
mekanik seperti IUD; atau metode hormonal seperti pil. Metode kontrasepsi alami
tidak memakai alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis
seorang wanita dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan).
Faktor
yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi
pemakaian dan efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan
kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan
kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya
mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi bersenggama,
kemudahan untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari
kontrasepsi tersebut di masa depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi,
kecuali abstinensia (tidak berhubungan seksual), yang efektif mencegah
kehamilan 100%.
2.1.2 Tujuan KB-KIA
Tujuan
Program Keluarga Berencana secara makro untuk mengendalikan laju pertumbuhan
penduduk dan menurunkan angka kelahiran, secara mikro mewujudkan ketahanan
keluarga dan kesejahteraan masyarakat, yang diwujudkan dalam kegiatan sebagai
berikut :
a) Upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan
b) Pengaturan
kelahiran
c) Pembinaan
ketahanan keluarga
d) Peningkatan
kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera
e) Meningkatkan
koordinasi dan peran serta aparatur serta masyarakat sehingga mampu mewujudkan
koordinasi dalam membangun Keluarga Berencana
f) Meningkatkan
peran penyuluh dalam peningkatan capaian program
a)
Tujuan
Umum KIA
Agar
ibu hamil dan menyusui tahu cara yang baik untuk menjaga kesehatan sendiri dan
anaknya, tahu pentingnya pemeriksaan ke puskesmas dan posyandu atau tenaga
kesehatan lain pada masa hamil dan menyusui serta adanya keinginan untuk ikut
menggunakan kontrasepsi yang efektif dan tepat.
b)
Tujuan
Khusus KIA
Memberi
pengetahuan kepada ibu tentang hygiene perorangan pentingnya menjaga kesehatan,
kesehatan ibu untuk kepentingan janin, jalannya proses persalinan, persiapan
menyusui dan KB.
2.1.3 Kebijakan
a) Kegiatan
harus disesuaikan dengan kesehatan ibu dan masalah yang ada.
b) Pelaksanaannya
dilakukan setiap minggu dengan materi dasar yang harus di review terus.
c) Metode
yang digunakan adalah demonstrasi dengan materi dan pembicara berganti – ganti.
d) Tenaga
pelatih atau pengajar adalah orang yang ahli di bidangnya.
e) Tempat
pertemuan adalah di ruang tunggu puskesmas, kelurahan atau tempat lain yang
dikenal masyarakat.
f) Lamanya
pelatihan tiap hari tidak lebih dari 1 jam.
g) Beri
teori 20 menit, selebihnya adalah demontrasi
2.1.4 Materi Kegiatan
a) Pemeliharaan
diri waktu hamil
b) Makanan
ibu dan bayi
c) Pencegahan
infeksi dengan imunisasi
d) Keluarga
Berencana
e) Perawatan
payudara dan hygiene perorangan
f) Rencana
persalinan
2.1.5 Kegiatan yang dilakukan
a) Pakaian
dan perawatan bayi
b) Contoh
makanan sehat untuk ibu hamil dan menyusui
c) Makanan
bayi
d) Perawatan
payudara sebelum dan setelah persalinan
e) Peralatan
yang diperlukan ibu hamil dan menyusui
f) Cara
memandikan bayi
g) Demontrasi
tentang alat kontrasepsi dan cara penggunaanya
2.1.6 Pelaksana
a) Pelaksana
utama meliputi dokter puskesmas, pengelola KIA, Kader, Bidan.
b) Pelaksana
pendukung meliputi camat, kades, pengurus LKMD, tokoh masyarakat.
c) Pelaksana
pembina meliputi sub din KIA Propinsi, tim pengelola KIA kabupaten.
2.1.7 Faktor Penentu Keberhasilan
a) Faktor
manusia
b) Faktor
sarana (tempat)
c) Faktor
prasarana (fasilitas).
2.1.8 Tugas Bidan Sebagai Pengelola Pelayanan KB-KIA
a) Mengembangkan
pelayanan kesehatan masyarakat terutama pelayanan kebidanan untuk individu,
keluarga, kelompok khusus dan masyarakat diwilayah kerjanya dengan melibatkan
keluarga dan masyarakat.
b) Berpartisipasi
dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan program sektor lain
diwilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan,
dan tenaga kesehatan lain yang berada diwilayah kerjanya.
2.1.9 Tugas Kader dalam KB-KIA
Tugas
kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah
tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam
hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah
maupun jenis pelayanan.
2.1.10 Program pokok KB-KIA
·
Pembinaan Kesehatan Ibu
a) Pelayanan
ibu resti berupa cakupan pelayanan (konseling, penanganan dan rujukan)
b) Persalinan
oleh nakes
c) Cakupan
peserta KB aktif (CPR)
d) Perawatan
ibu nifas
e) Pelayanan
neonatus, bayi dan anak balita
f) DDTK
2.1.11 Pelayanan Poli KB-KIA
a)
Poli
Kesehatan Ibu Anak – Antenatal Neonatus Care (ANC)
1. ANC
pada ibu hamil normal dan ibu hamil resiko tinggi
2. Penatalaksanaan
ibu hamil resiko tinggi
3. ANC
pada ibu hamil normal dan ibu hamil resiko tinggi
4. Penatalaksanaan
ibu hamil resiko tinggi
5. Nifas
6. Melaksanakan
perawatan nifas normal
7. Penanganan
perdarahan post partum
8. Penanganan
infeksi nifas
9. Pre-eklamsi
/ eklamsi nifas
10. Melakukan
rujukan kasus resiko tinggi ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi secara
tepat, cepat, benar.
b)
Poli
Kesehatan Ibu Anak – Keluarga Berencana (KB)
1. Konseling
pranikah
2. Konseling
metode KB
3. Pelayanan
KB kondom, pil injeksi, implant, IUD
4. Penatalaksanaan
efek samping KB baik hormonal maupun non hormonal
5. Melakukan
rujukan kasus KB ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi secara tepat, cepat
dan benar.
2.1.12 Macam-Macam Metode Kontrasepsi
a.
Kontrasepsi
untuk wanita usia lanjut
Semakin
bertambah usia maka terdapat perubahan dari periode menstruasi. Ketika darah
haid akhirnya berhenti, maka seorang wanita memasuki masa menopause.
Bagaimanapun juga, kontrasepsi sebaiknya digunakan sampai wanita tidak
mendapatkan menstruasi atau darah haid selama 2 tahun jika usia kurang dari 50
tahun atau 1 tahun jika usia lebih dari 50 tahun.
b.
Metode
kontrasepsi terdiri dari :
1.
Metode
Alami
o
Coitus
Interruptus (Sanggama Terputus).
Aksi
ini dapat mencegah terjadinya pembuahan yang berujung pada kehamilan. Coitus
Interruptus dapat diartikan sebagai senggama terputus atau dalam artian penis
dikeluarkan dari vagina sesaat seblum ejakulasi terjadi. Dengan cara ini
diharapkan cairan sperma tidak akan masuk kedalam rahim serta mengecilkan
kemungkinan bertemunya sperma dengan sel telur yang dapat mengakibatkan
terjadinya pembuahan. Teknik ini membutuhkan pastisipasi yang besar dari
pasangan Anda . Selain itu juga menuntut jiwa yang besar dari Anda dan pasangan
alias siap mental jika ternyata metode tersebut gagal. Faktor kegagalan dari
metode ini memang cukup tinggi karena bisa saja sperma telah keluar sebelum
orgasme. Dengan kata lain sperma sudah terlepas dan berenang cepat menuju sel
telur sesaat sebelum penis ditarik keluar.
§ EFEKTIF :
Bagi wanita yang suami atau pasangannya mampu mengontrol waktu ejakulasi.
o
Sistem
Kelender (Pantang Berkala) Metode ini disebut juga dengan The Rhythm Method.
Jika
cara ini jadi pilihan maka pengetahuan Anda tentang masa subur atau fertility
awareness harus tinggi. Anda harus mengetahui dengan tepat masa subur atau saat
yang paling memungkinkan Anda mengalami kehamilan. Bila Anda memang ingin
menunda kehamilan, maka pada saat tubuh memasuki masa subur tundalah keinginan
berhubungan intim dengan pasangan. Atau Anda dan pasangan tetap melakukan
hubungan seksual tapi menggunakan kondom. "Perhatikan terlebih dahulu
siklus mentruasi Anda selama 3 bulan kalau perlu 6 bulan guna mendapatkan
perhitungan waktu siklus mentruasi yang tepat, menurut Dr. Prima masa
"aman" seorang wanita adalah 2 hari setelah mentruasi hingga 14 hari
menjelang mentruasi berikutnya buat yang memiliki siklus haid pendek. Jika
siklus menstruasi Anda panjang, maka masa "aman" 2 hari setelah haid
hingga 16 hari menjelang menstruasi yang akan datang. Namun perlu di ingat
sebenarnya masa subur sangat sulit ditebak dengan pasti jadi masih ada kemungkinan
Anda mengalami "kebobolan"
§ EFEKTIF:
Bagi wanita dengan siklus mentruasi teratur. Buat mereka yang siklus haidnya
tidak teratur akan sulit untuk menggunakan metode ini, karena kesulitan
menentukan masa subur.
2.
Metode
Perlindungan (Barrier)
o
Kondom
Penggunaan kondom cukup
efektif selama digunakan secara tepat dan benar. Kegagalan kondom dapat
diperkecil dengan menggunakan kondom secara tepat, yaitu gunakan pada saat
penis sedang ereksi dan dilepaskan sesudah ejakulasi. Alat kontrasepsi ini
paling mudah didapat serta tidak merepotkan. Kegagalan biasanya terjadi bila
kondom robek karena kurang hati-hati atau karena tekanan pada saat ejakulasi
sehingga terjadi perembesan.
§ EFEKTIF:
Bagi siapa saja. Alergi terhadap karet kondom adalah hal yang sangat jarang
terjadi. Sebaiknya jika ada keluhan iritasi dan rasa tidak nyaman usai
berhubungan, Anda wajib konsultasi dengan dokter dan mencari alternatif
kontrasepsi lainnya.
o
Spermatisida
Ini bahan sejenis bahan
kimia aktif yang berfungsi "membunuh" sperma. Dapat berwujud cairan,
krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum
senggama. Ketika memasukkan spermatisida kedalam vagina harus menggunakan alat
yang telah disediakan dalam kemasan. sangat tidak diperbolehkan menggunakan
tangan!. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut belum yang cukup, jumlah
spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam
waktu kurang dari 6 jam usai senggama.
§ EFEKTIF:
Dapat digunakan siapa saja dan untuk meningkatkan efektifitasnya, gunakan
bersamaan dengan kondom serta vaginal diafragma.
o
Vagina
Diafragma
Lingkaran cincin
dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim bila dipasang dalam liang
vagina 6 jam sebelum senggama. Efektifitasnya alat kontrasepsi ini bisa menurun
bila terlalu cepat dilepas kurang dari 8 jam setelah senggama.
"Permasalahanya, banyak wanita harus belajar dulu cara memasukkan kedalam
vagina. Dan kebanyakan wanita Indonesia tidak terbiasa atau sungkan memasukkan
jari ke dalam lubang vagina" jelas Dr. Prima
§ EFEKTIF:
Dapat digunakan siapa saja dan untuk meningkatkan efektifitasnya, gunakan
bersamaan dengan kondom serta spermatisida.
3.
Metode
Perlindungan (Barrier)
o
Pil
KB
Keuntungan pil ini
adalah tetap membuat menstruasi teratur, mengurangi kram atau sakit saat
menstruasi. Kesuburan Anda juga dapat kembali pulih dengan cara cukuo
menghentikan pemakaian pil ini. Pil KB termasuk metode yang efektif saat ini.
Cara kerja pil KB adalah dengan mencegah pelepasan sel telut. Pil ini mempunyai
tingkat keberhasilan yang tinggi (99%) bila digunakan dengan tepat dan secara
teratur. Ada dua jenis pil KB yang sekarang beredar di pasaran, yaitu kombinasi
antara estrogen dan progesteron atau hanya mengandung progestoren saja.
"Pil KB generasi kedua tidak mempunyai efek seperti pil generasi pertama
atau kita kenal dengan lingkaran biru. Pil KB saat ini tidak membuat tubuh
gemuk, jerawatan serta pusing.
§ EFEKTIF:
Bagi wanita yang memang memiliki tingkat disiplin tinggi. Tidak dianjurkan bagi
yang sering lupa karena 2 kali alpa meminum pil KB justru dapat membuat subur
para wanita.
o
Suntik
KB
Jenis kontrasepsi ini
pada dasarnya mempunyai cara kerja seperti pil. Untuk suntikan yang diberikan 3
bulan sekali, memiliki keuntungan mengurangi resiko lupa minum pil dan dapat
bekerja efektif selama 3 bulan. Efek samping biasanya terjadi pada wanita yang
menderita diabetes atau hipertensi.
§ EFEKTIF:
Bagi wanita yang tidak mempunyai masalah penyakit metabolik seperti diabetes,
hipertensi, trombosis atau gangguan pembekuan darah serta riwayat stroke. Tidak
cocok buat wanita perokok. Karena rokok dapat menyebabkan peyumbatan pembuluh
darah.
o
Susuk
KB
Implant/susuk KB adalah
kontrasepsi dengan cara memasukkan tabung kecil di bawah kulit pada bagian
tangan yang dilakukan olej dokter Anda. Tabung kecil berisi hormon tersebut
akan terlepas sedikit-sedikit, sehingga mencegah kehamilan. Keuntungan memakai
kontrasepsi ini, Anda tidak harus minum pil atau suntik KB berkala. Proses
pemasangan susuk KB ini cukup 1 kali untuk masa pakai 2-5 tahun. Dan bilamana
Anda berenca hamil, cukup melepas implant ini kembali, efek samping yang
ditimbulkan, antara lain menstruasi tidak teratur.
§ EFEKTIF:
Intinya kontrasepsi dengan hormon sebaiknya bagi wanita dengan gangguan
metabolik harus ekstra hati-hati dalam memilih jenis kontrasepsi ini.
o
IUD
(Spiral)
Intrauterine Device
atau biasa juga disebut spiral karena bentuknya memang seperti spiral. Teknik
kontrasepsi ini adalah dengan cara memasukkan alat yang terbuat dari tembaga
kedalam rahim, seperti yang dikatakan Dr. Prima "sekarang ini, IUD
generasi baru bisa dikombinasikan dengan hormon progesteron, agar
efektifitasnya meningkat. Spiral ini juga bekerja menghalangi pertemuan sperma
dan sel telur serta berdaya pakai hingga 5 tahun lamanya. Tingkat
efektivitasnya bisa mencapai 98%, layaknya seperti pil, IUD juga mudah
mengembalikan kesuburan Anda.
§ EFEKTIF:
Sebaiknya wanita yang mudah mengalami keputihan tidak menggunakan metode ini.
Benang di ujung IUD harus senantiasa bersih. Karena jika kotor akan mudah
menyebabkan infeksi, "saran Dr. Prima.
4.
KONTRASEPSI
PERMANEN
o
Sterilisasi
Cara kontrasepsi ini
bersifat permanent. Konsepnya saluran telur pada wanita, disumbat dengan cara
diikat, dipotong atau dibakar. Sterilisasi pada wanita ini juga bisa dilakukan
dengan pengangkatan rahim. Sedangkan pada kaum pria, sterilisasi dilakukan
dengan cara memotong saluran sperma. Tetapi ada persyaratan khusus bagi wanita
yang ingin melakukan kontrasepsi jenis ini. "Amanya jumlah umur dikali
jumlah anak harus minimal seratus. Misalnya, Anda telah berusia 35 tahun dan
telah memiliki tiga anak. Lalu kalikan 35 x 3 = 105. Hasil ini dapat diartikan
sebagai kondisi aman. Untuk itu jika Anda ingin jalani kontrasepsi, sebaiknya
usia anak bungsu Anda telah melewati masa balita. hal ini sekedar berjaga-jaga
jika suatu saat Anda masih berniat untuk hamil kembali.
§ EFEKTIF:
Pilihan kontrasepsi ini paling cocok bagi wanita yang memang bertekad bulat tak
ingin punya anak lagi.
2.2 Dasa Wisma
2.2.1 Definisi Dasa Wisma
Kelompok
Dasa Wisma adalah kelompok yang terdiri dari 10 – 20 kepala keluarga (KK) dalam
satu RT. Setelah terbentuk kelompok, maka diangkatlah satu orang yang memiliki
tanggung jawab sebagai ketua. Tujuan kelompok Dasa Wisma ini adalah membantu
kelancaran tugas-tugas pokok dan program PKK kelurahan.
Dasa
Wisma sebagai salah satu wadah kegiatan masyarakat memiliki peran yang sangat
penting dalam pelaksanaan program-program kegiatan gerakan PKK di tingkat
desa,yang nantinya akan berpengaruh pula pada kegiatan gerakan PKK di tingkat
Kecamatan dan Kabupaten.
Dasa
wisma merupakan suatu kelompok persepuluhan dari suatu masyarakat yang nantinya
akan berperan aktif dalam melancarkan program program yang sudah direncanakan
oleh masyarakat. Kegiatannya diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga.
Bentuk kegiatannya seperti arisan, pembuatan jamban, sumur, kembangkan dana
sehat (PMT, pengobatan ringan, membangun sarana sampah dan kotoran)
Peran
serta masyarakat akan diperluas sampai ketingkat keluarga dengan sepuluh
keluarga sebagai satuan untuk pembinaan dalam bidang kesehatan secara swadaya.
Salah
seorang dari anggota keluarga persepuluhan untuk dipilih oleh mereka sendiri
dan dijadikan pimpinan dan pembina atau penghubung. Tujuan pengamatan dan
pemantauan oleh masyarakat, agar tercipta sistem kewaspadaan dan kesiap-siagaan
dini masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan masalah kesehatan,
bencana, dan kegawatdaruratan, yang akan mengancam dan merugikan masyarakat
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan secara efektif
dan efisien.
Bidan
yang di tempatkan di desa akan membina pemimpin kelompok persepuluhan tersebut
secara berkala dan menerima rujukan masalah kesehatan dari para anggota
persepuluh tersebut dalam wilayah kerjanya.
·
Masalah kesehatan dari Anggota Dasawisma
Beberapa
masalah kesehatan yang menjadi jangkauan kerja dari anggota dasawisma sebagai
berikut :
1. Usaha
perbaikan gizi keluarga
2. Masalah
pertumbuhan anak
3. Makanan
sehat bagi keluarga
4. Masalah
kebersihan lingkungan
5. Masalah
bencana dan kegawatdaruratan kesehatan termasuk resikonya
6. Masalah
kesehatan ibu, bayi dan balita
7. Masalah
penyakit
·
Contoh Program kerja Dasawisma
Masalah
: Usaha perbaikan gizi keluarga yang merupakan usaha perbaikan gizi seluruh
anggota keluarga
Pelaksana
: usaha perbaikan gizi keluarga dilaksanakan oleh anggota dasawisma bersama
masyarakat dengan bimbingan petugas kesehatan dan kerja sama dengan kader
masyarakat.
Tujuan
Kegiatan :
§ untuk
mencapai keluarga yang sehat dan mendapat gizi sesuai kebutuhan
§ Masyarakat
ikut serta dalam kegiatan
§ Menjelaskan
tentang perilaku yang mendukung perbaikan gizi
§ Mencakup
semua anggota keluarga baik bumil, bayi, balita dan naggota keluarga lainnya
2.2.2 Peran Dasa Wisma
Peran serta masyarakat akan diperluas
sampai ketingkat keluarga dengan sepuluh keluarga sebagai satuan untuk
pembinaan dalam bidang kesehatan secara swadaya.
Salah seorang dari anggota keluarga
persepuluhan untuk dipilih oleh mereka sendiri dan dijadikan pimpinan dan
pembina atau penghubung.
Tujuan pengamatan dan pemantauan oleh
masyarakat, agar tercipta sistem kewaspadaan dan kesiap-siagaan dini masyarakat
terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan masalah kesehatan, bencana, dan
kegawat daruratan, yang akan mengancam dan merugikan masyarakat sehingga dapat
dilakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan secara efektif dan efisien.
Bidan yang di tempatkan di desa akan
membina pemimpin kelompok persepuluhan tersebut secara berkala dan menerima
rujukan masalah kesehatan dari para anggota persepuluh tersebut dalam wilayah
kerjanya.
Salah satu organisasi yang telah ada dan
diakui manfaatnya bagi masyarakat, terutama dalam upaya meningkatkan
keberdayaan dan kesejahteraan keluarga adalah gerakan Pemberdayaan dan
Kesejahteraan Keluarga (PKK). Selain
ekonomi atau pendapatan keluarga, yang tak kalah penting diberdayakan dalam PKK
adalah peningkatan kesehatan dan spritual.
Disini yang paling berperan adalah
dasawisma, yakni unit terkecil kelompok PKK yang terdiridari 10 anggota rumah
tangga. Dari 10 anggota itu, ada seorang
penanggung jawab untuk memantau kondisi rumah tangga yang lain. Prinsip
dasawisma adalah pengawasan dan pemberdayaan hingga kemasyarakat bawah dan
menyentuh unit masyarakat terkecil, yakni keluarga.
Peran PKK diharapkan dapat menggugah
masyarakat agar termotivasi untuk selalu dinamis, maumengubah keadaan kepada
yang lebih maju lagi. Seperti dalam hal upaya peningkatan kesejahteraan
keluarga. PKK bukanlah tempat arisan dan pengajian saja, tetapi merupakan wadah
bagi pemberdayaan masyarakat. Kalau arisan dan pengajian, setiap perkumpulan
beberapa orang bisa saja dilakukan. Tapi
PKK lebih dari itu, merupakan wadah pemberdayaan.
Dasawisma sebagai kelompok terkecil dari
kelompok-kelompok PKK memiliki peran strategis mewujudkan keluarga sejahtera.
Untuk itu, di harapkan agar Dasawisma menjadi ujung tombak pelaksanaan 10
program pokok PKK dan program pemerintah karena sebagai mitra.
Selain itu, melalui dasawisma tersebut
diharapkan dapat memantau sekaligus mengantisipasi muncul serta berkembangkan
penyakit yang belakangan menghebohkan, dan banyak menimpa anak-anak seperti
demam berdarah.
Banyak hal yang dapat dilakukan melalui
dasawisma seperti melaksanakan kegiatan kerjabakti, mengadakan lomba mengambil jentiknya sehingga
dapat mengantisipasi munculnya penyakit demam berdarah. Selain itu, terutama
dalam hal administrasi, dengan mengupdate data di setiap kepala keluarga, usaha
perbaikan gizi keluarga dan keluarga berencana (KB). Dengan begitu Keberadaan
dasawisma akan mempermudah koordinasi dan jaringan, sehingga program-program
PKK maupun yang melibatkan PKK dapat berjalan tepatsasaran.
Pengetahuan dan keterampilan mutlak
dimiliki bagi kader PKK, untuk memajukan serta meningkatkan mutu dan kemampuan
organisasi. Karena, kesejahteraan bangsa dimulai dari kesejahteraan keluarga
yang merupakan salah satu sasaran pembangunan. Juga mengingatkan semua yang
tergabung dalam wadah organisasi PKK harus lebih mampu untuk berperan di
masyarakat, baik sebagai motivator, komunikator, dinamisator pembangunan dan
sebagainya yang mampu menyerap segala aspirasi yang tumbuh di masyarakat untuk
membuktikan manfaat dan keberadaan PKK itu sendiri secara nyata.
2.2.3 10 Program Pokok PKK
A. PROGRAM
POKJA I
Pokja I mengelola Program Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila dan Program Gotong Royong.
1. Tugas
a) Memantapkan
kerukunan dan toleransi antar umat beragama, saling menghormati dan menghargai
dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia.
b) Meningkatkan
ketahanan keluarga dalam rangka mewujudkan kesadaran setiap warga tentang
Penghayaan dan Pengamalan Pancasila melalui Pembinaan Kesadaran Bela Negara
(PKBN).
c) Memantapkan
Pola Asuh Anak dan Remaja dalam keluarga serta perlindungan anak melalui
Lokakarya dan Uji coba.
d) Peningkatan
pemahaman dan pengamalan perilaku budi pekerti dan sopan santun dalam kelurga
dan lingkungan.
e) Meningkatkan
pemahaman peraturan perundangan yang berkaitan dengan pencegahan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (KDRT), pencegahan perdagangan orang (Trafficking),
peningkatan pemahaman penyalahgunaan narkoba melalui life skill dan parenting
skill.
f) Meningkatkan
kesadaran hidup bergotong royong, kesetiakawanan sosial, keamanan lingkungan,
Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD dan lain-lainnya.
g) Memberdayakan
LANSIA dalam kegiatan yang produktif dan menjadi teladan dalam keluarga dan
lingkungan.
2. Prioritas
Program
·
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
Menumbuhkan ketahanan
keluarga melalui kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara perlu
dilaksanan pemahaman secara terpadu:
·
Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN).
PKBN mencakup 5 (lima)
unsur:
§ Kecintaan
tanah air
§ Kesadaran
berbangsa dan bernegara
§ Keyakinan
atas kebenaran Pancasila
§ Kerelaan
berkorban untuk Bangsa dan Negara
§ Memiliki
kemampuan awal bela Negara
·
Kesadaran Hukum (KADARKUM)
KADARKUM adalah upaya
untuk meningkatkan pemahaman tentang peraturan perundang-undangan
diprioritaskan di PKK untuk pencegahan PKDRT, Trafficking, Perlindungan Anak,
Narkoba, dll.
·
Pola Asuh Anaka dan Remaja
Pola
asuh anak dan remaja adalah upaya untuk menumbuhkan dan membangun perilaku,
budi pekerti, sopan santun di dalam keluarga sesuai budaya bangsa.
·
Pemahaman dan Ketrampilan Hidup (Life
Skill dan Parenting Skill)
Pemahaman
dan ketrampilan hidup adalah upaya menumbuhkan kesadaran orang tua dalam upaya
penvegahan penyalahgunaan Narkoba.
·
Pemahaman tertib administrasi dalam rangka
meningkatkan dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di keluarga.
3. Gotong
Royong
Kegiatan
Gotong Royong dilaksanakan dengan membangun kerjasama yang baik antar sesama
keluarga, warga, dan kelompok untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan.
1)
Menumbuhkan kesadaran, kesetiakawanan
sosial, bertenggang rasa, dan kebersamaan serta saling menghormati antar umat
beragama.
2)
Memberdayakan LANSIA agar dapat amenjaga
kesehatan fisik dan mental, kebugaran, ketrampilan agar dapat melaksanakan
kegiatan secara produktif dan menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungannya.
3)
Berpartisipasi dalam pelaksanaan
kegiatan bakti sosial, kegiaan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
B. PROGRAM
POKJA II
Pokja
II mengelola Program Pendidikan dan Ketrampilan serta Pengembangan Kehidupan
Berkoperasi.
1. Tugas
Meningkatkan
pendidikan dan ketrampilan dalam keluarga, peningkatan jenis dan mutu kader,
peningkatan pengetahuan TP PKK dan kelompok-kelompok PKK dan Dasawisma melalui
penyuluhan, orientasi dan pelatihan.
a. Melaksanakan
dan mengembangkan kegiatan program Bina Keluarga Balita (BKB)
b. Memantapkan
Kelompok Belajar (Kejar) Paket A, B, dan C.
c. Meningkatkan
pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran dalam keluarga tentang pentingnya
pendidikan anak sejak usia dini (0-6) tahun agar anak tumbuh dan berkembang
secara optimal sesuai dengan usianya.
d. Membantu
program Keaksaraan Fungsional (KF) dalam rangka meningkatkan pendidikan
keluarga.
e. Meningkatkan
kelompok dan kualitas Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) PKK.
f. Memotivasi
keluarga tentang manfaat koperasi sebagai salah satu upaya perbaikan ekonomi
keluarga dan mendorong terbentuknya koperasi yang dikelola oleh PKK.
g. Identifikasi
kebutuhan pelatihan.
h. Menyusun
modul-modul pelatihan.
i.
Berpartisipasi dalam Forum PAUD
berkerjasama dengan Pokja IV yang difasilitasi oleh Kementrian Pendidikan
Nasional.
j.
Meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang pentingnya pendidikan dasar untuk semua sesuai dengan tujuan MGDs yaitu
agar setiap anak laki-laki dan perempuan mendapatkan dan menyelesaikan pendidikan
dasar.
2. Prioritas
Program
·
Penddikan dan Ketrampilan
1. Meningkatkan
kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan, kesadaran dan ketarmpilan keluarga
yang mempunyai anak balita mengenai tumbuh kembang anak balita secara optimal.
2. Menyusun
modul pelatihan BKB dabi TP PKK dan mengadakan pelatihan BKB.
3. Meningkatkan
mutu dan jumlah pelatih PKK dengan mengadakan pelatihan/ Training of Trainer
(TOT).
4. Menyempurnakan
modul-modul pelatihan TPK3PKK, LPPKK dan DAMAS PKK sesuai dengan perkembangan
serta mensosialisasikannya antara lain melalui pelatihan-pelatihan: TPK3PKK,
LP3PKK, dan DAMAS PKK.
5. Meningkatkan
pengetahuan PKK dalam kegiatan Pos PAUD melalui kegiatan PAUD yang
diintegarsikan dengan BKB ddan Posyandu dengan pereman mitra PAUD bekerjasama
dengan Pokja IV.
6. Meningkatkan
jumlah pengetahuan dan ketrampilan kader dalam mendidik anak usia dini melalui
pelatihan bekerjasama dengan instansi terkait dan HIMPAUDI.
7. Meningkatkan
ketrampilan kecakapan hidup (Life Skill) perempuan maupun laki-laki sehingga mampu
berusaha secara bersama atau mandiri untuk memperkuat kehidupann diri dan
keluarganya.
8. Mengadakan
manitoring dan evaluasi kegiatan Pos APUD di TP PKK Provinsi untuk mengetahui
sejauh mana pengintegrasian PAUD, BKB, dan Posyandu.
9. Meningkatkan
kejar paket A, B, dan C melaui pelatihan Tutor Kejar Paket A, B, dan C
bekerjasama dengan insansi terkait.
10. Meningkatkan
dan menyuluh keluarga tentang Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun
(Wajar Dikdas 9 Tahun).
11. Meningkatkan
pendidikan dan ketrampilan keluarga serta pengembangan Keaksaraan Fungsional
(KF) dengan pendampingan melalui penyuluhan, oreintasi dan pelatihan.
12. Meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan baca tulis, serta membudayakan minat baca masyarakat
melalui aman Bacaan Masyarakat (TBM) dan sudut baca bekerja sama dengan
Instansi terkait.
13. Meningkatkan
pelaksanaan kerjasama dengan mitra sebagai pendamping, yaitu lintas sektoal dan
lintas kelembagaan.
·
Pengembangan Kehidupan Berkoperasi
1. Melaksanakan
evaluasi UP2K-PKK dan mengadakan lomba UP2K untuk mengetahui sejauh mana
pelaksanaan kegiatan UP2K-PKK di daerah dan mengetahui keberhasilannya.
2. Mengadakan
pelatihan UP2K-PKK dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang program
UP2K-PKK agar TP PKK Provinsi mempunyai tenaga terampil dalam pengembangan
program UP2K-PKK.
3. Mendata
ulang jumlah kelompok-kelompok UP2K-PKK.
4. Mengatasi
cara pemecahan masalah mengenai permodalan untuk kegiatan UP2K-PKK melalui
APBD, Lembaga keuangan Mikro yang ada, baik yang bersifat bank seperti BRI Unit
Desa dan Bank Perkreditan Rakyat, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
(PNPM) Mandiri Pedesaan, Alokasi Dana Desa (AAD) dan lain-lain.
5. Mengupayakan
pemasaran UP2K-PKK melalui pasar, warung, ikut pada pameran, bazar baik lokal
maupun nasional dan menjalin kemitraan dengan Dekranas/ Dekranasda.
6. Memotifasi
keluarga agar mau menjadi anggota koperasi untuk meningkatkan pendapatan
keluarga.
7. Mendorong
terbentuknya koperasi yang berbadan hukum yang dikelola oleh TP PKK.
C. PROGRAM
POKJA III
Pokja
III mengelola program pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga.
1. Tugas
a. Mengupayakan
ketahanan keluarga dibidang pangan sesuai dengan UU No. 17 Tahun 1996 tentang
Pangan.
b. Meningkatkan
penganekaragaman tanaman pangan dalam upaya peningkatan gizi keluarga menuju
keluarga yang berkualitas.
c. Menumbuhkan
kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi,
berimbang (3B), yang aman dan berbasis sumber daya lokal.
d. Mengusahakan
pemanfaatan lahan baik darat maupun air minimal untuk pemenuhan kebutuhan
pangan keluarga.
e. Berperan
dan membantu dalam program Cadangan Pangan Masyarakat.
f. Memantapkan
Gerakan Halaman, Asri, Teratur, Indah dan Nyaman (HATINYA PKK).
g. Memanfaatkan
Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam upaya meringankan beban kerja sehingga
hasilnya lebih efektif dan efisien.
h. Membudayakan
“Aku Cinta Makanan Indonesia” dan “Aku Cinta Produk Indonesia” sehingga
menumbuhkan rasa bangga.
i.
Mensosialisasikan pola pangan 3B
untukkeluarga khususnya bagi balita dan lansia.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
KIA
adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak yang anggotanya
meliputi ibu hamil dan menyusui. Keluarga
berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan.
Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif
untuk mencegah ataupun menunda kehamilan.
Dasawisma
merupakan suatu kelompok persepuluhan dari suatu masyarakat yang nantinya akan
berperan aktif dalam melancarkan program program yang sudah direncanakan oleh
masyarakat. Kegiatannya diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga. Bentuk
kegiatannya seperti arisan, pembuatan jamban, sumur, kembangkan dana sehat
(PMT, pengobatan ringan, membangun sarana sampah dan kotoran).
Dasawisma diprogram untuk mengetahui
perkembangan kesehatan keluarga dan lingkungan. Pemantauan sistem kewaspadaan
dan kesiap-siagaan dini masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit dan
masalah kesehatan, bencana, dan kegawat daruratan dalam masyarakat.
3.2 Saran
1.
Diharapkan agar dapat memberi masukan
berupa kritik dan saran yang bersifat membangun tentang KB-KIA dan Dasa Wisma.
2.
Diharapkan agar lebih mengembangkan
wawasan dan ilmu pengetahuan tentang KB-KIA dan Dasa Wisma.
3.
Diharapkan untuk petugas kesehatan agar
meningkatkan kualitas pelayanan KB kepada masyarakat dan membantu mencapai KIA
4.
Tenaga kesehatan untuk lebih
berkomunikasi dengan masyarakat agar kegiatan dasawisma dapat berjalan dengan
lancar sesuai dengan fungsi dan tujuan terbentuknya.
5.
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dalam kesehatan Usaha perbaikan gizi keluarga, Masalah pertumbuhan anak,
Makanan sehat bagi keluarga, Masalah kebersihan lingkungan, Masalah bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan termasuk resikonya, Masalah kesehatan ibu, bayi dan
balita, dan Masalah penyakit.
DAFTAR
PUSTAKA
Bunga, Ayu.2011.KIA-KB (Kesehatan Ibu dan
Anak-Keluarga Berencana).Tanggal
diakses 19 juli 2012.www.rantingbungaayu.com
Suharti.2011. KIA-KB (Kesehatan Ibu dan Anak-Keluarga
Berencana).tanggal diakses 19 Juli
2012. www.kebidanan.blogspot.com
Universitas Indonesia. 2011. KIA-KB. tanggal diakses
19 Juli 2012.
http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2010/02/pengembangan-wahanaforum-psm-berperan_2503.html
http://ellealawiyah.blogspot.com